Gambaran Karakteristik Ibu Yang Memiliki Balita Stunting Di Kelurahan Ntobo Wilayah Kerja Puskesmas Penanae Tahun 2025

Authors

  • Elfiana Fitri Akademi Kebidanan Surya Mandiri Bima
  • Nurul Qamarya Akademi Kebidanan Surya Mandiri Bima
  • Dian Mariza Rizkiah Anwar Akademi Kebidanan Surya Mandiri Bima

DOI:

https://doi.org/10.70683/jkk.v3i2.51

Keywords:

umur, pendidikan, paritas, tinggi badan ibu, ekonomi

Abstract

Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Stunting di Indonesia memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan masalah gizi lain. Berdasarkan data Puskesmas Penana’e Desember tahun 2024 terdapat 383 balita yang mengalami stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran karakteristik ibu yang memiliki balita stunting di Kelurahan Ntobo wilayah kerja Puskesmas Penana’e. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan variabel tunggal yaitu Sampel yaitu ibu yang memiliki balita stunting sebanyak 65 orang. Teknik sampling yatitu total sampling.

Didapatkan bahwa hasil penelitian dari 65 responden yaitu usia ibu hamil tidak beresiko sebanyak 43 responden (66%), usia ibu hamil beresiko sebanyak 22 responden (34%), tamat SD sebanyak 9 responden (14%), tamat SMP sebanyak 12 responden (19%), tamat SMA sebanyak 32 responden (49%), tamat perguruan tinggi sebanyak 12 responden (19%), ibu tidak bekerja sebanyak 59 responden (91%), ibu bekerja sebanyak 6 responden (10 %), ibu memiliki anak 1 sebanyak 15 responden (23%), ibu memiliki anak 2-4 anak sebanyak 41 responden (63%), ibu memiliki anak < 4 anak sebanyak 9 responden (14%), ibu yang memiliki tinggi badan < 150 cm sebanyak 32 responden (49%), ibu yang memiliki tinggi badan > 150 cm sebanyak 33 responden (51%), status ekonomi rendah sebanyak 50 responden (77%), status ekonomi sedang sebanyak 15 responden (23 %), status ekonomi tinggi sebanyak 0 responden (0 %). Kesimpulan penelitian ini adalah karakteristik ibu yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah tingkat pendidikan ibu menengah (SMA) dan status ekonomi keluarga yang rendah yaitu dibawah UMR Rp. 2.500.000. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan health education pada ibu yang memiliki anak balita mengenai pencegahan stunting pada balita agar prevalensi stunting bisa menurun.

Downloads

Published

2025-12-26

Issue

Section

Articles